Jumat, 10 Oktober 2014

Contoh PTK (Penelitian Tindakan Kelas)




UPAYA MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN STAD (Student Teams Achievement Division) PADA MATERI SISTEM INDERA DI KELAS XI IPA 2 SMA NEGERI SAMBAS



PROPOSAL PENELITIAN


Oleh :
SEPY SAPARINA
NIM : 111630070

 










PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONTIANAK
PONTIANAK
2014





Bab I
Pendahuluan
A.    Latar Belakang
Pendidikan merupakan salah satu usaha masyarakat untuk memajukan peradaban dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Menurut undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 3 : pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mewujudkan hal tersebut,  kegiatan pembelajaran harus dilaksanakan sebaik mungkin agar keberhasilan sebuah pendidikan dapat tercapai.
Keberhasilan sebuah pendidikan dipengaruhi banyak faktor, antara lain fasilitas, guru, siswa, dan lingkungan itu sendiri. Salah satu diantaranya yang merupakan faktor utama adalah guru. Guru adalah seseorang yang berada di garda terdepan untuk menciptakan kualitas sumber daya manusia karena seorang guru berhadapan langsung dengan siswa dalam proses belajar mengajar. Seorang guru diharapkan dapat menciptakan lingkungan belajar yang melibatkan siswa secara langsung atau tidak langsung dan bertanggung jawab dalam proses belajar mengajar, agar proses pembelajaran berhasil.
Proses pembelajaran dikatakan berhasil apabila materi yang disampaikan guru dapat diterima siswa serta nilai siswa telah mencapai Kriteria Kelulusan Minimal (KKM) yang telah ditetapkan sekolah. Untuk mencapai keberhasilan dalam proses belajar, seorang guru harus memiliki kemampuan dan memilih suatu model pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa sehingga materi yang disampaikan lebih mudah dipahami oleh siswa. Keaktifan siswa sangat diperlukan terutama dalam proses pembelajaran IPA Biologi.
IPA Biologi merupakan salah satu mata pelajaran yang sering dikatakan oleh sebagian besar siswa sebagai mata pelajaran yang sulit. Hal tersebut dikarenakan IPA Biologi mengajarkan mengenai nama latin, klasifikasi, sistem dan proses biologis yang terjadi di dalam tubuh makhluk hidup serta peranannya dalam kehidupan. Materi yang sulit dipahami siswa terutama mengenai sistematika yang terjadi didalam tubuh makhluk hidup, salah satunya Sistem Indera.
Sistem Indera merupakan salah satu materi yang terdapat didalam kurikulum pembelajaran. Sistem Indera merupakan salah satu materi yang menjelaskan mengenai bagaimana cara kerja alat indera yang dimiliki setiap makhluk hidup, terutama manusia. Materi ini menuntut siswa agar lebih kreatif serta dapat mengembangkan kemampuan berpikir siswa. Hal tersebut yang menyebabkan siswa sulit untuk memahami materi mengenai Sistem Indera. Guru harus menyiapkan model pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa agar siswa lebih cepat dalam memahami materi yang diajarkan, serta dapat lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran. Salah satu model yang digunakan guru adalah model pembelajaran Student Teams Achievment Divisions (STAD).
Student Teams Achievment Divisions (STAD) adalah salah satu tipe model pembelajaran kooperatif. Menurut Slavin (2007), Gagasan utama di belakang STAD adalah memacu siswa agar saling mendorong dan membantu satu sama lain untuk menguasai keterampilan yang diajarkan guru. Dalam pembelajaran kooperatif tipe STAD, pengajar terlebih dahulu menyajikan materi, membentuk kelompok secara heterogen. Selanjutnya, pengajar memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota-anggota kelompok. Setelah itu, pengajar memberi kuis atau pertanyaan kepada seluruh siswa (pada saat menjawab kuis, siswa tidak boleh saling membantu). Kemudian pengajar memberi evaluasi, dan bersama-sama dengan siswa membuat kesimpulan.
Pembelajaran kooperatif dengan tipe STAD didasarkan pada prinsip bahwa siswa bekerja bersama-sama dalam belajar dan bertanggung jawab terhadap belajar teman-temannya dalam tim dan juga dirinya sendiri. Siswa ditempatkan dalam tim belajar yang beranggotakan empat sampai lima orang yang merupakan campuran menurut prestasi akademik dan jenis kelamin. Dalam model pembelajaran kooperatif tipe STAD materi dirancang untuk pembelajaran kelompok. Siswa secara kooperatif mengerjakan tugas-tugas yang diberikan dalam bentuk LKS. Dalam model pembelajaran inisiswa lebih bebas bertanya kepada teman satu timnya, sebab biasanya siswa tidak mau bertanya kepada guru apabila menemukan permasalahan. Pembelajaran dengan menggunakan metode STAD diharapkan dapat membantu proses belajar mengajar agar lebih efektif, menarik dan menyenangkan sehingga dapat meningkatkan penguasaan konsep siswa mengenai materi Sistem Indera.
Berdasarkan uraian di atas, maka penelitian ini diberi judul “Upaya Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa Melalui Model Pembelajaran STAD (Student Teams Achievment Divisions) pada Materi Sistem Indera di Kelas XI IPA 2 SMAN 1 Sambas”.

B.     Rumusan Masalah
1.1  Untuk mengetahui peningkatan aktivitas siswa dengan model pembelajaran STAD (Student Teams Achievment Divisions) pada materi Sistem Indera di kelas XI IPA 2 SMAN 1 Sambas ?
1.2  Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa dengan model pembelajaran STAD (Student Teams Achievment Divisions) pada materi Sistem Indera di kelas XI IPA 2 SMAN 1 Sambas ?
1.3  Untuk mengetahui penerapan model pembelajaran STAD (Student Teams Achievment Divisions) dalam peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa pada materi Sistem Indera di kelas XI IPA 2 SMAN 1 Sambas ?

C.     Tujuan Penelitian
1.1  Untuk mengetahui peningkatan aktivitas siswa dengan model pembelajaran STAD (Student Teams Achievment Divisions) pada materi Sistem Indera di kelas XI IPA 2 SMAN 1 Sambas ?
1.2  Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa dengan model pembelajaran STAD (Student Teams Achievment Divisions) pada materi Sistem Indera di kelas XI IPA 2 SMAN 1 Sambas ?
1.3  Untuk mengetahui penerapan model pembelajaran STAD (Student Teams Achievment Divisions) dalam peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa pada materi Sistem Indera di kelas XI IPA 2 SMAN 1 Sambas ?

D.    Manfaat Penelitian
1.      Manfaat Teoritis
a.       Untuk menambah temuan-temuan penelitian tindakan kelas bahwa model pembelajaran STAD (Student Teams Achievment Divisions) dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar biologi siswa.
b.      Untuk mengembangkan gagasan dan wawasan baru mengenai model pembelajaran berdasarkan teori-teori yang ada, bagi penelitian lanjutan yang sama atau penelitian yang terkait.
2.      Manfaat Praktis
a.       Bagi peneliti diharapkan dengan dilaksanakannya penelitian ini dapat diperoleh pengalaman langsung dalam menerapkan model pembelajaran STAD (Student Teams Achievment Divisions).
b.      Bagi guru diharapkan dengan dilaksanakannya penelitian ini dapat menjadi model pembelajaran baru guna meningkatkan aktivitas dan hasil belajar biologi siswa sehingga dapat dipergunakan untuk pembelajaran pada materi yang lain.
c.       Bagi siswa, diharapkan dengan dilaksanakannya penelitian ini diperoleh pengalaman belajar baru yang diajarkan untuk dapat meningkatkan hasil belajar mereka.

E.     Defenisi Operasional
a.       Aktivitas adalah segala sesuatu/kegiatan yang dilakukan baik fisik maupun non fisik.
b.      Hasil Belajar adalah perubahan perilaku diperoleh pembelajar setelah mengalami aktivitas belajar.
c.       Model Pembelajaran STAD adalah metode pembelajaran kooperatif yang melibatkan pengakuan tim dan tanggung jawab kelompok untuk pembelajaran individu anggota, keanggotaan kelompok heterogen menurut tingkat prestasi, jenis kelamin, dan suku.
d.     Sistem Indera merupakan alat penghubung/kontak antara jiwa dalam wujud kesadaran rohani diri dengan material lingkungan.














Bab II
Tinjauan Pustaka
A.    Landasan Teori
1.1  Pengertian Belajar
Belajar adalah proses bagi siswa dalam membangun gagasan atau pemahaman sendiri. Oleh sebab itu, kegiatan belajar mengajar hendaknya memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan hal tersebut dengan lancar dan termotivasi. Suasana belajar yang diciptakan guru harus melibatkan siswa secara aktif, misalnya mengamati, bertanya dan mempertanyakan, menjelaskan, dan sebagainya. Menurut Mudjiono (2009), Belajar merupakan tindakan dan perilaku siswa yang kompleks. Sebagai tindakan, maka belajar hanya dialami oleh siswa sendiri. Siswa adalah penentu terjadinya proses belajar. Proses belajar terjadi berkat siswa memperoleh sesuatu yang ada di lingkungan sekitar.
Slameto (Ghullam, 2011) mengemukakan bahwa belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya menyangkut kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dalam belajar, siswa mengalami sendiri proses dari tidak tahu menjadi tahu, sehingga terjadi perubahan dalam diri individu siswa.
Belajar merupakan proses kegiatan yang dapat membawa perubahan individu. Dalam kenyataannya belajar adalah perubahan individu dalam kebiasaan, pengetahuan, dan sikap. Hamalik (Nuxon J.Gerung (1983 : 28) mengatakan bahwa Belajar adalah suatu bentuk pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara bertingkah laku baru berkat pengalaman dan latihan. Muhammad dalam Nuxon J.Gerung (1999 : 37) mengatakan bahwa belajar adalah pekerjaan yang harus dikerjakan sendiri, diusahakan sendiri dan tidak dapat menugaskan orang lain untuk mengerjakannya. Belajar merupakan jenis pekerjaan yang harus melibatkan diri secara langsung kedalam pekerjaan itu. Hal ini berarti bahwa apabila seseorang mau belajar atau ingin mempelajari sesuatu, maka dia sendirilah yang harus mempelajarinya. Dia tidak dapat memerintah atau menyewa orang lain untuk kepentingannya, melainkan harus terlibat langsung dalam proses belajar ini.
Menurut arti secara psikologis, belajar sebagai suatu proses perubahan yaitu perubahan dalam tingkah laku seseorang sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan tersebut dapat diwujudkan dalam seluruh aspek tingkah laku. Sehubungan dengan hal tersebut, Soeyanto dalam Nuxon J.Gerung (1981 : 12) mengatakan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan yang terus menerus pada diri manusia karena usaha untuk mencapai kehidupan atas bimbingan dan sesuai dengan cita-cita dan falsafah hidupnya. Dapat dikatakan pula bahwa belajar ialah perubahan dalam diri seseorang yang bersifat kemajuan atau penyempurnaan kepribadian. Kemajuan dan penyempurnaan tersebut dimaksudkan untuk menghasilkan perubahan-perubahan positif dalam diri anak didik yang sedang menuju kedewasaan. Perubahan yang terjadi pada diri anak didik tersebut banyak sekali, baik sifat maupun jenisnya. Oleh karena itu sudah tentu tidak semua perubahan dalam diri anak didik merupakan perubahan dalam arti belajar. Contohnya: perubahan tingkah laku seseorang dalam keadaan tidak sadarkan diri, perubahan yang terjadi ini merupakan perubahan dalam pengertian belajar.

1.2  Pengertian Aktivitas
Aktivitas merupakan kegiatan yang dilakukan seseorang. Menurut Anton M. Mulyono (Heni Aprilia Rohmawati, 2013), Aktivitas artinya “kegiatan / keaktifan”. Jadi segala sesuatu yang dilakukan atau kegiatan-kegiatan yang terjadi baik fisik maupun non-fisik, merupakan suatu aktifitas.
Aktivitas belajar banyak sekali macamnya, sehingga para ahli mengadakan klasifikasi. Paul D. Dierich (Heni Aprilia Rohmawati, 2013) mengklasifikasikan aktivitas belajar atas delapan kelompok, yaitu :
1.       Kegiatan-kegiatan Visual
Membaca, melihat gambar-gambar, mengamati eksperimen, demonstrasi, pameran, dan mengamati orang lain bekerja dan bermain.
2.       Kegiatan-kegiatan Lisan (oral)
Mengemukakan suatu fakta atau prinsip, menghubungkan suatu kejadian, mengajukan pertanyaan, memberi saran, mengemukakan pendapat, wawancara, diskusi dan interupsi.
3.       Kegiatan-kegiatan Mendengarkan
Mendengarkan penyajian bahan, mendengarkan percakapan atau diskusi kelompok, mendengarkan suatu permainan, mendengarkan radio.
4.       Kegiatan-kegiatan Menulis
Menulis cerita, menulis laporan, memeriksa karangan, bahan-bahan kopi, membuat rangkuman, mengerjakan tes dan mengisi angket.
5.       Kegiatan-kegiatan Metrik
Melakukan percobaan, memilih alat-alat, melaksanakan pameran, membuat model, menyelenggarakan permainan, menari dan berkebun.
6.       Kegiatan-kegiatan Mental
Merenung, mengingat, memecahkan masalah, menganalisis faktor-faktor, melihat hubungan-hubungan dan membuat keputusan.
7.       Kegiatan-kegiatan Emosional
Minat, membedakan, berani, tenang dan lain-lain. Berdasarkan uraian di atas, peneliti menggunakan tujuh dari delapan aktivitas siswa meliputi kegiatan membaca, mengemukakan pendapat, mendengarkan, menulis, melakukan percobaan, memecahkan masalah dan berani mengemukan pendapat.
Adapun indikator aktivitas siswa dalam pembelajaran IPA melalui model Kooperatif Tipe STAD adalah (Heni Aprilia Rohmawati, 2013) :
a.       Kesiapan siswa dalam mengikuti pembelajaran (Kegiatan-kegiatan Visual).
b.      Siswa mendengarkan informasi dari guru (Kegiatan-kegiatan Mendengarkan).
c.       Siswa aktif dalam berdiskusi kelompok belajar (Kegiatan-kegiatan Metrik).
d.      Siswa menyajikan hasil kerja kelompok (Kegiatan-kegiatan Lisan).
e.       Siswa menanggapi hasil diskusi yang disajikan kelompok lain (Kegiatan-kegiatan Emosional).
f.       Siswa menyimpulkan materi pembelajaran (Kegiatan-kegiatan menulis).
g.      Siswa menganalisis serta mengevaluasi proses pemecahan masalah (Kegiatan-kegiatan Mental).

1.3  Pengertian Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan perubahan perilaku diperoleh pembelajar setelah mengalami aktivitas belajar. Perolehan aspek-aspek perubahan perilaku tersebut tergantung pada apa yang dipelajari oleh pembelajar (Anni , 2007 : 5 ). Menurut Anitah (Heni Aprilia Rohmawati, 2013) perubahan perilaku sebagai hasil belajar merupakan hasil dari pengalaman mental dan emosional, dikelompokkan kedalam tiga ranah yaitu pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotorik) dan penguasan nilai-nilai atau sikap (afektif). Sesuai pendapat Nawawi ((Heni Aprilia Rohmawati, 2013) keberhasilan murid mempelajari materi pelajaran di sekolah dinyatakan dalam bentuk nilai atau skor dari hasil tes mengenai sejumlah pelajaran tertentu. Tujuan hasil belajar dibagi menjadi tiga macam :
a.       Hasil belajar berupa kemampuan keterampilan atau kecapakan di dalam melakukan atau mengerjakan suatu tugas, termasuk di dalamnya keterampilan menggunakan alat.
b.      Hasil belajar yang berupa kemampuan penguasaan ilmu pengetahuan tentang apa yang dikerjakan.
c.       Hasil belajar yang berupa perubahan sikap dan tingkah laku.
Berdasarkan beberapa pendapat ahli dapat disimpulkan hasil belajar merupakan perubahan perilaku sesuai tujuan khusus melalui pengalaman yang di dapat siswa melalui ranah kognitif,afektif dan psikomotorik. Hasil belajar berupa lembar kerja dan tes evaluasi siswa.

1.4  Pengertian Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang dirancang untuk membelajarkan kecakapan akademik sekaligus keterampilan sosial. Pembelajaran kooperatif merupakan bentuk pembelajaran dengan cara siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari empat sampai enam orang dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen (Rusman, 2012). Berdasarkan pendapat tersebut, pembelajaran kooperatif sama dengan kerja kelompok, walaupun tidak semua kerja kelompok dikatakan Pembelajaran Kooperatif.
Menurut Nurulhayati (Rusman, 2012) Pembelajaran kooperatif adalah strategi pembelajaran yang melibatkan partisipasi siswa dalam satu kelompok kecil untuk saling berinteraksi. Dalam sistem belajar yang kooperatif, siswa belajar bekerja sama dengan anggota lainnya. Dalam model ini siswa memiliki dua tanggung jawab, yaitu mereka belajar untuk dirinya sendiri dan membantu sesame anggota kelompok untuk belajar. Siswa belajar bersama dalam sebuah kelompok kecil dan mereka dapat melakukannya seorang diri.
Pembelajaran kooperatif tidak sama dengan sekedar belajar dalam kelompok. Ada unsur dalam pembelajaran kooperatif yang membedakan dengan pembelajaran kelompok yang dilakukan asal-asalan. Pelaksanaan prinsip dasar pokok sistem pembelajaran kooperatif dengan benar akan memungkinkan guru mengelola kelas dengan lebih efektif. Dalam pembelajaran kooperatif proses pembelajaran tidak harus belajar dari guru kepada siswa. Siswa dapat saling membelajarkan sesama siswa lainnya. Pembelajaran oleh rekan sebaya lebih efektif daripada pembelajaran oleh guru ( Rusman, 2012 ).
Menurut Rusman (2012), terdapat empat hal penting dalam strategi pembelajaran kooperatif, yakni :
1.      Adanya peserta didik dalam kelompok
2.      Adanya aturan main
3.      Adanya upaya belajar dalam kelompok
4.      Adanya kompetensi yang harus dicapai oleh kelompok.
Pembelajaran cooperative mewadahi bagaimana siswa dapat bekerja sama dalam kelompok, tujuan kelompok adalah tujuan bersama. Situasi kooperatif merupakan bagian dari siswa untuk mencapai tujuan kelompok, siswa harus merasakan bahwa mereka akan mencapai tujuan, maka siswa lain dalam kelompoknya memiliki kebersamaan, artinya tiap kelompok-kelompok bersikap kooperatif dengan sesama anggota kelompoknya agar pembelajaran dikatakan efektif. Menurut Sanjana (Rusman, 2012), pembelajaran kooperatif akan efektif apabila :
1.      Guru menekankan pentingnya usaha bersama disamping usaha secara individual
2.      Guru menghendaki pemerataan perolehan hasil dalam belajar
3.      Guru ingin menanamkan tutor sebaya atau belajar melalui teman sendiri
4.      Guru menghendaki adanya pemerataan partisipasi aktif siswa
5.      Guru menghendaki kemampuan siswa dalam memecahkan berbagai permasalahan.
Pembelajaran kooperatif dicirikan oleh struktur tugas, tujuan, dan penghargaan kooperatif. Siswa yang belajar dalam situasi pembelajaran kooperatif didorong dan/atau dikehendaki untuk bekerja sama pada suatu tugas bersama dan mereka harus mengkoordinasikan usahanya untuk menyelesaikan tugasnya. Dalam penerapan pembelajaran kooperatif, dua atau lebih individu saling tergantung satu sama lain untuk mencapai satu penghargaan bersama. Dalam pembelajaran kooperatif, siswa belajar bersama dalam kelompok-kelompok kecil yang saling membantu satu sama lain. Kelas disusun dalam kelompok yang terdiri atas empat atau enam orang siswa, dengan kemampuan heterogen. Maksud kelompok heterogen adalah terdiri atas campuran kemampuan siswa, jenis kelamin, dan suku. Hal ini bermanfaat untuk melatih siswa menerima perbedaan cara bekerja dengan teman yang berbeda latar belakangnya (Hamdani, 2011).

1.5  Model Pembelajaran STAD
Menurut Slavin (Rusman, 2012) model STAD (Student Team Achievement Divisions) merupakan variasi pembelajaran kooperatif yang paling banyak diteliti. Model ini sangat mudah diadaptasi, telah digunakan dalam matematika, IPA, IPS, bahasa inggris, teknik, dan banyak subjek lainnya, dan pada tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Dalam STAD, siswa dibagi menjadi kelompok beranggotakan empat orang yang beragam kemampuan, jenis kelamin, dan sukunya. Guru memberikan suatu pelajaran dan siswa-siswa di dalam kelompok memastikan suatu pelajaran dan siswa-siswi di dalam kelompok memastikan bahwa semua anggota kelompok itu bisa menguasai pelajaran tersebut. Akhirnya semua siswa menjalani kuis perseorangan tentang materi tersebut, dan pada saat itu mereka tidak boleh saling membantu satu sama lain.
Langkah-langkah pembelajaran kooperatif model STAD adalah (Rusman, 2012) :
1.      Penyampaian tujuan dan motivasi
2.      Pembagian kelompok
3.      Presentasi dari guru
4.      Kegiatan belajar dalam tim
5.      Kuis atau evaluasi
6.      Penghargaan prestasi tim.
Menurut Suyatna (Agisna, 2013) STAD adalah metode pembelajaran kooperatif yang melibatkan pengakuan tim dan tanggung jawab kelompok untuk pembelajaran individu anggota, keanggotaan kelompok heterogen menurut tingkat prestasi, jenis kelamin, dan suku. STAD dipilih karena merupakan metode pembelajaran kooperatif yang paling sederhana dan cenderung tidak membuat keributan, sehingga aktivitas siswa dapat terarah dan fokus pada pembelajaran.
Pembelajaran kooperatif dengan tipe STAD didasarkan pada prinsip bahwa siswa bekerja bersama-sama dalam belajar dan bertanggung jawab terhadap belajar teman-temannya dalam tim dan juga dirinya sendiri. Siswa ditempatkan dalam tim belajar yang beranggotakan empat sampai lima orang yang merupakan campuran menurut prestasi akademik dan jenis kelamin. Dalam model pembelajaran kooperatif tipe STAD materi dirancang untuk pembelajaran kelompok. Siswa secara kooperatif mengerjakan tugas-tugas yang diberikan dalam bentuk LKS. Dalam model pembelajaran ini siswa lebih bebas bertanya kepada teman satu timnya, sebab biasanya siswa tidak mau bertanya kepada guru apabila menemukan permasalahan (Asmawati, 2011).
Model pembelajaran kooperatif tipe STAD memiliki ciri-ciri sebagai berikut (Asmawati, 2011):
1.      Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya
2.      Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah
3.      Anggota kelompok berasal dari ras, suku, budaya, jenis kelamin berbeda-beda
4.      Penghargaan lebih berorientasi kelompok dibanding individu.
Menurut penelitian Asmawati (2011), unsur-unsur dasar tipe STAD adalah siswa dalam kelompoknya haruslah beranggapan bahwa mereka hidup sepenanggungan bersama, siswa bertanggung jawab atas segala sesuatu didalam kelompoknya, siswa harus melihat bahwa semua anggota dalam kelompoknya memiliki tujuan yang sama, siswa harus membagi tugas dan bertanggung jawab yang sama dalam kelompoknya, siswa dikenakan evaluasi atau hadiah yang juga akan dikenakan untuk semua anggota kelompoknya, siswa akan diminta pertanggungjawaban secara individual materi yang ditangani dalam pembelajaran kooperatif.
1.6  Sistem Indera
Sistem indera adalah bagian dari sistem saraf yang berfungsi untuk proses informasi indera. Di dalam sistem indera, terdapat reseptor inderajalur saraf, dan bagian dari otak ikut serta dalam tanggapan indera. Umumnya, sistem indera yang dikenal adalah penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan dan peraba. Macam-macam system indera antara lain (Pratiwi, 2006) :
a.       Indera Penglihat (Mata)
Mata adalah organ indra yang memiliki reseptor peka cahaya yang disebut fotoreseptor. Setiap mata mempunyai lapisan reseptor, system lensa untuk memusatkan cahaya pada reseptor, dan system saraf untuk menghantarkan impuls dari reseptor ke otak. Pada bagian retina terdapat sel batang yang mampu menerima rangsang sinar tak berwarna dan sel kerucut yang mampu menerima rangsang sinar kuat dan berwarna.
Sel batang mengandung pigmen yang peka terhadap cahaya yaitu rodopsin, suatu bentuk senyawa antara vitamin A dengan protein tertentu. Bila terkena sinar terang, rodopsin terurai dan akan terbentuk kembali dalam keadaan gelap. Sel kerucut mengandung pigmen iodopsin, yaitu senyawa retinin dan opsin. Ada tiga macam sel kerucut yang masing-masing peka terhadap rangsang warna tertentu yaitu merah, biru, dan hijau. Dari kombinasi ketiga warna ini, kita dapat menerima spektrum warna ungu sampai merah. Kerusakan sel konus menyebabkan buta warna merah, biru atau kuning.
Kecembungan lensa mata dapat berubah-ubah. Perubahan kecembungan tersebut karena kontraksi dan relaksasi otot-otot ligamen yang melekat pada bola mata. Kecembungan lensa mata yang dapat berubah-ubah membuat pandangan menjadi fokus atau sebaliknya disebut daya akomodasi lensa mata. Mata yang normal adalah yang dapat memfokuskan sinar-sinar sejajar yang masuk ke mata sehingga jatuh tepat ke bintik kuning di depan retina sehingga benda dapat dilihat dengan jelas. Keadaan ini disebut emetrop.
Bagian-bagian mata adalah (Dwisang, 2011) :
a.       Sclera berfungsi untuk melindungi bola mata dari kerusakan mekanis dan memungkinkan melekatnya otot mata
b.      Kornea terletak di depan sclera dan dibungkus oleh konjungtiva yang melindungi kornea dari gesekan
c.       Koroid banyak mengandung pembuluh darah dan pigmen, terdapat iris, pupil, lensa dan badan bening
d.      Iris berfungsi memberi warna pada mata dan sebagai diafragma untuk mengatur besar kecilnya pupil.
e.       Pupil berfungsi mengatur jumlah cahaya yang masuk ke mata dan melindungi retina. Jika cahaya yang yang masuk ke pupil banyak, pupil akan mengecil dan jika cahaya yang masuk ke pupil sedikit, pupil akan membesar
f.       Lensa mata berfungsi memfokuskan cahaya sehingga menjadi bayangan yang jelas pada retina.
g.      Badan bening berfungsi meneruskan cahaya dari lensa mata ke retina, menyokong lensa, dan menjaga bentuk bola mata
h.      Retina mengandung saraf penglihatan dan terdapat bintik buta, bagian yang paling peka terhadap cahaya.




http://www.duniasekolah.com/wp-content/uploads/2014/01/Bagian-bagian-mata.jpg










                                                                  Sumber www.google.co.id

Kelainan – kelainan pada mata (Pratiwi, 2006) :
a.       Miopi (mata dekat), bayangan benda jatuh di depan retina karena bola mata terlalu panjang (cembung). Dapat dibantu kengan kacamata lensa cekung.
b.      Hipermetropi (mata jauh), bayangan benda jatuh di belakang retina karena bola mata terlalu pendek atau bola mata terlalu pipih. Dapat dibantu dengan kacamata lensa cembung.
c.       Astigmatisma, kecenderungan kornea tidak merata sehingga bayangan menjadi tidak terfokus (kabur). Dapat dibantu dengan kacamata silinder.

b.      Indera Pendengar (Telinga)
Mendengar adalah kemampuan untuk mendeteksi vibrasi mekanis (getaran) yang disebut suara. Dalam keadaan biasa, getaran mencapai indera pendengar yaitu telinga melalui udara. Telinga terdiri dari 3 bagian yaitu (Pratiwi, 2006) :
1.      Telinga bagian luar yang terdiri dari daun telinga dan liang telinga berfungsi membantu mengkonsentrasikan gelombang suara.
2.      Telinga tengah terdiri dari membran tympani (selaput gendang) untuk meneruskan vibrasi ke osikula; tulang martil (os maleus), tulang landasan (os inkus), tulang sanggurdi (os stapes) untuk meneruskan getaran ke jendela oval, dan saluran eustachius untuk menyeimbangkan tekanan udara antara telinga tengah dan lingkungan.
3.      https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiAbJtYVVzZ_b2IB6WgTh2gIUnLSVpEjnm_ZvL66PjEwasm3MLXR2B1ijYuqjVZyE9RnD_F1AcM2p7S4vMHljPsDiIw3DJATvgnh-tfKUAGxRqBTR3fq1WkwNnR76DMzsDV7Y-UR_Irum0/s1600/telinga.jpgTelinga dalam terdiri dari jendela oval sebagai penghubung telinga tengah dan telinga dalam, jendela melingkar sebagai reseptor suara, koklea sebagai reseptor untuk gerakan kepala, saluran semisirkuler dan utrikulus sebagai reseptor gravitasi, membran basiler untuk meneruskan vibrasi, organ korti, dan membrane tektorial meneruskan vibrasi ke organ korti.








                                                           







c.       Indera Peraba dan Perasa (Kulit)
Kulit mamalia termasuk manusia terdapat beberapa reseptor yang memiliki fungsi berbeda. Kulit manusia tersusun oleh dua lapisan utama, yaitu epidermis dan dermis. Pada epidermis terdapat reseptor untuk rasa sakit dan tekanan lemah. Reseptor untuk tekanan disut mekanoreseptor (Pratiwi, 2006).
Menurut (Dwisang, 2011) saraf – saraf pada kulit terdiri atas :
1.      Ujung saraf Meissner : peka terhadap sentuhan
2.      Ujung saraf Paccini : peka terhadap tekanan
3.      Ujung saraf Krause : peka terhadap dingin
4.      Ujung saraf Ruffini : peka terhadap panas
5.      Ujung saraf bebas (tanpa selaput) : peka terhadap nyeri
6.      Unjung saraf sekeliling rambut : ujung saraf peraba
7.      Lempeng merkel : peka terhadap sentuhan dan tekanan ringan
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhwuDfAPeUcEY9jW4hT4rsCVddA4BSU2GvmfDMgO3ukCGYGdX7PdLIoqioP_o7fRIcKF8wRVk6aN5CxJyBGPGFpxGDUKpyzZBX4ke-SXiJnMTUqnO6V6sdeCowM-T6okNh5aCdhbOdTa70p/s1600/sistemindera10.jpg
                                                            Sumber www.google.co.id
d.      Indera Pembau (Hidung)
Manusia mendeteksi bau dengan menggunakan reseptor yang terletak pada kedua epitel olfaktori di dalam rongga hidung. Udara yang masuk ke dalam rongga hidung akan melaluinya. Sel-sel penciuman memiliki ujung berupa rambut-rambut halus. Rambut-rambut itu dihubungkan oleh urat saraf melalui tulang saringan dan bersatu menjadi urat saraf olfaktori menuju ke pusat penciuman bau di otak. Di antara sel-sel penciuman terdapat sel-sel penunjang atau penyokong. Reseptor pembau dan pengecap saling berhubungan dan bekerja sama. Indera pembau dan pencium menerima stimulus berupa gas, sedangkan indera pengecap menerima stimulus berupa cairan. Hanya ada dua sel reseptor yang dapat dibedakan dalam epitel olfaktori, berdasarkan strukturnya. Akan tetapi, berdasarkan fungsinya, ada tujuh macam kelompok sel-sel reseptor. Dengan gabungan ketujuh reseptor itu, kita dapat mengenal 400 macam bau (Pratiwi, 2006).
http://idkf.bogor.net/yuesbi/e-DU.KU/edukasi.net/SMA/Biologi/Sistem.Indera.Manusia/images/hal03.jpg                       










                                                                       
e.       Indera Pengecap (Lidah)
Rangsangan kimia yang berasal dari luar tubuh diterima oleh reptor kimia (kemoreseptor). Kemoreseptor terhadap lingkungan luar adalah berupa tunas pengecap yang terdapat pada lidah. Agar suatu zat dapat dirasakan, zat itu harus larut dalam kelembapan mulut sehingga dapat menstimulasi kuncup rasa/tunas pengecap. Kuncup rasa kebanyakan terdapat pada permukaan lidah. Ada juga yang beberapa ditemukan pada langit-langit lunak di belakang mulut dan lengkung langit-langit. Kemoreseptor dapat dibadakan menjadi empat macam sensasi utama, yaitu rasa manis, rasa asam, rasa asin dan rasa pahit (Pratiwi, 2006).
Lidah memiliki tiga papil pengecap, yaitu (Pratii, 2006) :
1.      Papil bentuk benang merupakan papil peraba dan tersebar di seluruh permukaan lidah.
2.      Papil seperti huruf V tersusun dalam lengkungan yang dilingkari oleh suatu saluran pada daerah dekat pangkal lidah.
3.      Papil berbentuk palu, terdapat pada daerah tepi-tepi lidah.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiAuw5kp-NR-5gNmFlovtAsdVL41AClFrYc6KasV8dkMTjDZFpPSULsXQKarZZLGbzpBwaFLqH5BRbVqo0V3vpRDqUAGdnXipelrsXC_qaVR4y5sBNTpX2OAhC08T9fSAtRA-nXW4yHXvI/s400/lidah.jpg
                                                           Sumberwww.google.co.id

B.     Hipotesis Tindakan
Hipotesis dalam penelitian tindakan ini adalah aktivitas dan hasil belajar siswa yang rendah akan meningkat jika diberikan model pembelajaran STAD.


Bab III
Metode Penelitian
A.    Metode dan Bentuk Penelitian
Bentuk penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas. Menurut Mulyasa (2008), Penelitian Tindakan Kelas merupakan suatu cara memperbaiki dan meningkatkan profesionalisme guru, karena guru merupakan orang yang paling tahu mengenai segala sesuatu yang terjadi dalam pembelajaran. Penelitian Tindakan Kelas dapat dilakukan secara efektif oleh setiap guru untuk meningkatkan kualitas pembelajaran tanpa harus meninggalkan tugas utamnya mengajar. Penelitian Tindakan Kelas yang dilakukan secara logis dan sistematis serta jujur dalam pelaporannya akan menjadi masukan untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas pembelajaran, yang secara langsung akan berdampak terhadap perbaikan manajemen sekolah secara keseluruhan.
Metode yang digunakan adalah metode pembelajaran tipe STAD. Menurut Slavin (Rusman, 2012) model STAD (Student Team Achievement Divisions) merupakan variasi pembelajaran kooperatif yang paling banyak diteliti. Model ini sangat mudah diadaptasi, telah digunakan dalam matematika, IPA, IPS, bahasa inggris, teknik, dan banyak subjek lainnya, dan pada tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Dalam STAD, siswa dibagi menjadi kelompok beranggotakan empat orang yang beragam kemampuan, jenis kelamin, dan sukunya. Guru memberikan suatu pelajaran dan siswa-siswa di dalam kelompok memastikan suatu pelajaran dan siswa-siswi di dalam kelompok memastikan bahwa semua anggota kelompok itu bisa menguasai pelajaran tersebut. Akhirnya semua siswa menjalani kuis perseorangan tentang materi tersebut, dan pada saat itu mereka tidak boleh saling membantu satu sama lain.

B.     Sumber Data/Subjek Penelitian
Adapun sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
1.      Data cara penerapan model pembelajaran STAD (Student Teams Achievment Divisions) pada siswa kelas XI IPA 2 SMAN 1 Sambas berupa lembar observasi keterlaksanaan model STAD (Student Teams Achievment Divisions) selama kegiatan pembelajaran. Data ini untuk mengetahui cara penerapan model (Student Teams Achievment Divisions) pada materi Sistem Indera.
2.      Data aktivitas siswa dengan penerapan model pembelajaran STAD (Student Teams Achievment Divisions) pada siswa kelas XI IPA 2 SMAN 1 Sambas berupa hasil aktivitas yang dilakukan pada saat kegiatan pembelajaran. Data ini untuk mengetahui aktivitas belajar siswa pada materi Sistem Indera.
3.      Data hasil belajar siswa dengan penerapan model pembelajaran STAD (Student Teams Achievment Divisions) pada siswa kelas XI IPA 2 SMAN 1 Sambas berupa tes yang diberikan diakhir kegiatan pembelajaran. Data ini untuk mengetahui hasil belajar siswa pada materi Sistem Indera.

C.     Waktu dan Tempat Penelitian
1.      Waktu Penelitian
Waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan penyusunan dari hasil penelitian ini secara lengkap sangat sulit ditentukan. Akan tetapi, sebagaimana bahan acuan dapat dikemukakan bahwa penelitian ini diawali pada bulan Februari dan diakhiri bulan Mei 2014.
2.      Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di kelas XI IPA 2 semester di SMAN 1 Sambas Tahun Ajaran 2013/2014.

D.    Teknik dan Alat Pengumpul Data
1.      Teknik Pengumpulan Data
Teknik merupakan cara yang dapat digunakan oleh peneliti untuk pengumpulan data. Adapun teknik pengumpulan data adalah sebagai berikut :
a.       Observasi
Observasi dalam kegiatan belajar menagajar yaitu kegiatan mendokumentasikan secara tertulis kejadian yang terjadi di saat berlangsungnya proses pembelajaran. Observasi dilakukan untuk mengetahui proses pembelajaran biologi dengan model STAD (Student Teams Achievment Divisions). Hasil observasi ini akan diperoleh tentang kegiatan siswa dan guru pada saat proses pembelajarn berlangsung.
b.      Wawancara
Wawancara adalah teknik pengumpulan data dengan mengajukan pertanyaan secara lisan kepada subjek yang diteliti. Wawancara dilakukan untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa terhadap materi.
c.       Penilaian
Penilaian digunakan untuk mengukur sejauh mana seorang siswa telah menguasai pelajaran yang disampaikan dan biasanya dilakukan diakhir atau diawal pembelajaran.
d.      Dokumentasi
Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen biasa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya dari seseorang. Dokumen yang dimaksudkan berupa silabus, RPP, dan data siswa.

2.      Alat Pengumpul Data
Alat pengumpul data adalah alat bantu yang dipilih dan digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar kegiatan tersebut berjalan sistematis dan menjadi lebih mudah dalam mengumpulkan data. Alat yang di gunakan dalam peni\elitian ini adalah tes hasil belajar, lembar observasi, dan pedoman wawan cara.berikut ini penjelasan dari setiap alat tersebut:
a.       Lembar observasi
Lembar observasi digunakan untuk memperoleh data mengenai aktivitas siswa dalam belajar.  Observasi dilaksanakan oleh pengamat atau observer.
b.   Pedoman wawancara
            Pedoman wawancara berfungsi antara lain memberikan pedoman tentang apa-apa yang akan ditanyakan, mengantisipasi kemungkinan lupa terhadap pokok permasalahan yang akan ditanyakan serta agar wawancara dapat berlangsung secara efektif. Wawancara yang digunakan dalam penelitian ini dilakukan dengan memberikan pertanyaan kepada siswa dan akan dijawab oleh siswa dengan jawaban secara bebas. Wawancara dilakukan antara peneliti dengan siswa setelah pelaksanaan tindakan pada setiap siklus. Penelitian melakukan wawancara dengan dua orang siswa dari tiap kelompok.
c.       Tes
Tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes tertulis dalam bentuk objektif, yaitu dalam bentuk soal pilihan ganda dengan jumlah soal 20. Tes hasil belajar diberikan setiap akhir siklus.

E.     Teknik Analisis Data
1.      Analisis Data
a.       Pengumpulan Data
Teknik analisis data adalah langkah-langah yang ditempuh oleh peneliti untuk mengolah data yang diperoleh. Hal yang pertama dilakukan adalah mengumpulkan data. Apabila peneliti sudah menentukan data apa yang akan dikumpulkan, darimana data tersebut diperoleh, dan dengan cara apa, maka peneliti akan mengetahui hal apa yang akan dilakukan selanjutnya.data yang telah diperoleh akan disaring terlebih dahulu sehingga diperoleh data yang diharapkan oleh peneliti.
b.      Reduksi Data
Reduksi data merupakan proses berfikir sensitive yang memerlukan kecerdasan dan keluwesan dan wawasan yang tinggi. Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting serta dicari tema dan polanya.
c.       Penyajian Data
Penyajian data dimaksudkan agar data terorganisasikan, tersusun dalam pola hubungan, sehingga mudah dipahami. Dengan penyajian data maka akan memudahkan apa yang terjadi dan merencanakan langkah selanjutnya.
d.      Penarikan Kesimpulan
Kesimpulan dalam penelitian ini merupakan temuan baru yang sebelumnya belum pernah ada dimana kesimpulan menjawab rumusan masalah yang telah dirumuskan sejak awal.

2.      Perhitungan Aktivitas Siswa
Pada perhitungan persentase hasil belajar dan hasil observasi aktivitas siswa digunakan rumus persentase dari Sudijono (2008) :
P
Keterangan:          
P = angka persentase
F = frekuensi yang sedang dicari persentasenya
N = banyaknya individu (jumlah frekuensi)

3.      Perhitungan Hasil Belajar Siswa
Hasil belajar diperoleh dari nilai posttest setiap siklus. Data yang diperoleh dianalisa dengan rumus sebagai berikut :

Nilai Kognitif

Untuk menghitung ketuntasan klasikal hasil belajar dengan rumus sebagai berikut :

Nilai Klasikal

Tabel 3.2 Pedoman Penilaian Hasil Belajar Siswa
Rentang Skor
Predikat
81% - 100%
Sangat Baik
61%  - 80%
Baik
41% - 60%
Cukup
21% - 40%
Kurang
0% - 20%
Sangat Kurang

Keberhasilan dalam proses pembelajaran memerlukan indicator. Menurut guru biologi SMAN 1 Sambas proses pembelajaran dikataan berhasil apabila 75% siswa mencapai ketuntasan belajar dengan KKM = 75.

F.      Keabsahan Data
1.      Triangulasi
Tiangulasi merupakan tehnik pemeriksaan keabsahan data untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data. Triangulasi berarti cara terbaik untuk menghilangkan perbedaan-perbedaan konstruksi kenyataan yang ada dalam konteks suatu studi sewaktu mengumpulkan data data tentang berbagai kejadian atau berhubungan dari berbagai pandangan.
2.      Member check
Member check merupakan pengecekan anggota yang terlibat dalam proses pengumpulan data yang sangat penting dalam pemeriksaan derjat  kepercayaan. Yang dicek dengan anggota yang terlibat meliputi data, kategori analisis, penafsiran dan kesimpulan. Pengecekan anggota dapat dilakukan baik secara formal.

G.    Prosedur Penelitian
Sesuai dengan jenis penelitian yang dipilih, yaitu penelitian tindakan, maka penelitian ini menggunakan model penelitian tindakan dari Kemmis dan Taggart (dalam EJournal Dinas Pendidikan : 6), yaitu berbentuk spiral dari sklus yang satu ke siklus yang berikutnya. Setiap siklus meliputi planning (rencana), action (tindakan), observation (pengamatan), dan reflection (refleksi). Langkah pada siklus berikutnya adalah perncanaan yang sudah direvisi, tindakan, pengamatan, dan refleksi. Sebelum masuk pada siklus 1 dilakukan tindakan pendahuluan yang berupa identifikasi permasalahan. Siklus spiral dari tahap-tahap penelitian tindakan kelas dapat dilihat pada gambar berikut :


 








Penjelasan alur di atas adalah :
1.   Rancangan/rencana awal, sebelum mengadakan penelitian peneliti menyusun rumusan masalah, tujuan dan membuat rencana tindakan, termasuk di dalamnya instrumen penelitian dan perangkat pembelajaran.
2.   Kegiatan dan pengamatan, meliputi tindakan yang dilakukan oleh peneliti sebagai upaya meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa dari diterapkannya model pembelajaran STAD.
3. Refleksi, peneliti mengkaji, melihat dan mempertimbangkan hasil atau dampak dari tindakan yang dilakukan berdasarkan lembar pengamatan yang diisi oleh pengamat.
4.   Rancangan/rencana yang direvisi, berdasarkan hasil refleksi dari pengamat membuat rancangan yang direvisi untuk dilaksanakan pada siklus berikutnya.





























Daftar Pustaka
Agisna, A.P. 2013. Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas VII C SMP Anggrek Banjarmasin Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Team Achievement Divisions (STAD) dan SCRAMBLE. ISBN : 978 – 979 – 16353 – 9 – 4.
Asmawati. 2011. Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Terhad Penguasaan  Konsep Siswa Pada Materi Bunyi. Jakarta.
Dwisang, Luvina, Evi. 2011. Cerdas Menghapal Biologi SMA. Tangerang : Scientific Press.
Ghullam, dkk. 2011. Pengaruh Motivasi Belajar Siswa Terhadap Prestasi Belajar IPA Di Sekolah Dasar. Jurnal Penelian Pendidikan Vol.12 No.1.
Hamdani. 2011. Strategi Belajar Mengajar. Bandung : Pustaka Setia.
Mudjiono.2009. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta.
Mulyasa, E. 2008. Menjadi Guru Profesional, Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Bandung : PT Remaja Rodaskarya.
Nixon J.Gerung. Conceptual Learning And Learning Style.
Pratiwi. 2006. Biologi Untuk SMA Kelas XI. Jakarta : Penerbit Erlangga.
Rohmawati, Aprilia, Heni. 2013. Peningkatan Kualitas Pembelajaran IPA Melalui Model Kooperatif Tipe STAD Pada Siswa Kelas V SDN Sendang Batang. Semarang.
Rusman, Dr. 2012. Model-model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru Edisi Kedua. Jakarta : Raja Grafindo Persada.
Yulaikah, Mei. Penerapan Jigsaw Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Sekolah Dasar. E-Jurnal Dinas Pendidikan Kota Surabaya; Volume 6.




Lampiran
1.      RPP
2.      LKS
a.       Kisi-kisi LKS
b.      LKS
c.       Pedoman Penilaian LKS
3.      Soal
a.       Kisi-kisi Soal
b.      Soal
c.       Pedoman Penskoran Soal

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar