UPAYA
MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN STAD
(Student Teams Achievement Division) PADA MATERI SISTEM INDERA DI KELAS XI IPA
2 SMA NEGERI SAMBAS
PROPOSAL
PENELITIAN
Oleh
:
SEPY
SAPARINA
NIM
: 111630070
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH PONTIANAK
PONTIANAK
2014
Bab I
Pendahuluan
A. Latar
Belakang
Pendidikan
merupakan salah satu usaha masyarakat untuk memajukan peradaban dan
mengembangkan ilmu pengetahuan. Menurut undang-undang Nomor 20 Tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 3 : pendidikan nasional berfungsi
mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa bermartabat
dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya
potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman, bertaqwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi
warga negara demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mewujudkan hal
tersebut, kegiatan pembelajaran harus
dilaksanakan sebaik mungkin agar keberhasilan sebuah pendidikan dapat tercapai.
Keberhasilan
sebuah pendidikan dipengaruhi banyak faktor, antara lain fasilitas, guru,
siswa, dan lingkungan itu sendiri. Salah satu diantaranya yang merupakan faktor
utama adalah guru. Guru adalah seseorang yang berada di garda terdepan untuk
menciptakan kualitas sumber daya manusia karena seorang guru berhadapan
langsung dengan siswa dalam proses belajar mengajar. Seorang guru diharapkan
dapat menciptakan lingkungan belajar yang melibatkan siswa secara langsung atau
tidak langsung dan bertanggung jawab dalam proses belajar mengajar, agar proses
pembelajaran berhasil.
Proses
pembelajaran dikatakan berhasil apabila materi yang disampaikan guru dapat
diterima siswa serta nilai siswa telah mencapai Kriteria Kelulusan Minimal
(KKM) yang telah ditetapkan sekolah. Untuk mencapai keberhasilan dalam proses
belajar, seorang guru harus memiliki kemampuan dan memilih suatu model
pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa sehingga materi yang disampaikan
lebih mudah dipahami oleh siswa. Keaktifan siswa sangat diperlukan terutama
dalam proses pembelajaran IPA Biologi.
IPA
Biologi merupakan salah satu mata pelajaran yang sering dikatakan oleh sebagian
besar siswa sebagai mata pelajaran yang sulit. Hal tersebut dikarenakan IPA
Biologi mengajarkan mengenai nama latin, klasifikasi, sistem dan proses
biologis yang terjadi di dalam tubuh makhluk hidup serta peranannya dalam
kehidupan. Materi yang sulit dipahami siswa terutama mengenai sistematika yang
terjadi didalam tubuh makhluk hidup, salah satunya Sistem Indera.
Sistem
Indera merupakan salah satu materi yang terdapat didalam kurikulum
pembelajaran. Sistem Indera merupakan salah satu materi yang menjelaskan
mengenai bagaimana cara kerja alat indera yang dimiliki setiap makhluk hidup,
terutama manusia. Materi ini menuntut siswa agar lebih kreatif serta dapat
mengembangkan kemampuan berpikir siswa. Hal tersebut yang menyebabkan siswa
sulit untuk memahami materi mengenai Sistem Indera. Guru harus menyiapkan model
pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa agar siswa lebih cepat dalam
memahami materi yang diajarkan, serta dapat lebih aktif dalam kegiatan
pembelajaran. Salah satu model yang digunakan guru adalah model pembelajaran
Student Teams Achievment Divisions (STAD).
Student
Teams Achievment Divisions (STAD) adalah salah satu tipe model pembelajaran
kooperatif. Menurut Slavin (2007), Gagasan utama di belakang STAD adalah memacu
siswa agar saling mendorong dan membantu satu sama lain untuk menguasai
keterampilan yang diajarkan guru. Dalam pembelajaran kooperatif tipe STAD,
pengajar terlebih dahulu menyajikan materi, membentuk kelompok secara
heterogen. Selanjutnya, pengajar memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan
oleh anggota-anggota kelompok. Setelah itu, pengajar memberi kuis atau
pertanyaan kepada seluruh siswa (pada saat menjawab kuis, siswa tidak boleh
saling membantu). Kemudian pengajar memberi evaluasi, dan bersama-sama dengan
siswa membuat kesimpulan.
Pembelajaran
kooperatif dengan tipe STAD didasarkan pada prinsip bahwa siswa bekerja bersama-sama
dalam belajar dan bertanggung jawab terhadap belajar teman-temannya dalam tim
dan juga dirinya sendiri. Siswa ditempatkan dalam tim belajar yang
beranggotakan empat sampai lima orang yang merupakan campuran menurut prestasi
akademik dan jenis kelamin. Dalam model pembelajaran kooperatif tipe STAD
materi dirancang untuk pembelajaran kelompok. Siswa secara kooperatif
mengerjakan tugas-tugas yang diberikan dalam bentuk LKS. Dalam model
pembelajaran inisiswa lebih bebas bertanya kepada teman satu timnya, sebab
biasanya siswa tidak mau bertanya kepada guru apabila menemukan permasalahan. Pembelajaran
dengan menggunakan metode STAD diharapkan dapat membantu proses belajar
mengajar agar lebih efektif, menarik dan menyenangkan sehingga dapat
meningkatkan penguasaan konsep siswa mengenai materi Sistem Indera.
Berdasarkan
uraian di atas, maka penelitian ini diberi judul “Upaya Meningkatkan Aktivitas
dan Hasil Belajar Siswa Melalui Model Pembelajaran STAD (Student Teams
Achievment Divisions) pada Materi Sistem Indera di Kelas XI IPA 2 SMAN 1
Sambas”.
B. Rumusan
Masalah
1.1 Untuk
mengetahui peningkatan aktivitas siswa dengan model pembelajaran STAD (Student
Teams Achievment Divisions) pada materi Sistem Indera di kelas XI IPA 2 SMAN 1
Sambas ?
1.2 Untuk
mengetahui peningkatan hasil belajar siswa dengan model pembelajaran STAD (Student
Teams Achievment Divisions) pada materi Sistem Indera di kelas XI IPA 2 SMAN 1
Sambas ?
1.3 Untuk
mengetahui penerapan model pembelajaran STAD (Student Teams Achievment Divisions)
dalam peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa pada materi Sistem Indera
di kelas XI IPA 2 SMAN 1 Sambas ?
C. Tujuan
Penelitian
1.1 Untuk
mengetahui peningkatan aktivitas siswa dengan model pembelajaran STAD (Student
Teams Achievment Divisions) pada materi Sistem Indera di kelas XI IPA 2 SMAN 1
Sambas ?
1.2 Untuk
mengetahui peningkatan hasil belajar siswa dengan model pembelajaran STAD
(Student Teams Achievment Divisions) pada materi Sistem Indera di kelas XI IPA
2 SMAN 1 Sambas ?
1.3 Untuk
mengetahui penerapan model pembelajaran STAD (Student Teams Achievment
Divisions) dalam peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa pada materi
Sistem Indera di kelas XI IPA 2 SMAN 1 Sambas ?
D. Manfaat
Penelitian
1. Manfaat
Teoritis
a. Untuk
menambah temuan-temuan penelitian tindakan kelas bahwa model pembelajaran STAD
(Student Teams Achievment Divisions) dapat meningkatkan aktivitas dan hasil
belajar biologi siswa.
b. Untuk
mengembangkan gagasan dan wawasan baru mengenai model pembelajaran berdasarkan
teori-teori yang ada, bagi penelitian lanjutan yang sama atau penelitian yang
terkait.
2. Manfaat
Praktis
a. Bagi
peneliti diharapkan dengan dilaksanakannya penelitian ini dapat diperoleh
pengalaman langsung dalam menerapkan model pembelajaran STAD (Student Teams
Achievment Divisions).
b. Bagi
guru diharapkan dengan dilaksanakannya penelitian ini dapat menjadi model
pembelajaran baru guna meningkatkan aktivitas dan hasil belajar biologi siswa
sehingga dapat dipergunakan untuk pembelajaran pada materi yang lain.
c. Bagi
siswa, diharapkan dengan dilaksanakannya penelitian ini diperoleh pengalaman
belajar baru yang diajarkan untuk dapat meningkatkan hasil belajar mereka.
E. Defenisi
Operasional
a.
Aktivitas adalah segala sesuatu/kegiatan
yang dilakukan baik fisik maupun non fisik.
b.
Hasil Belajar adalah perubahan perilaku
diperoleh pembelajar setelah mengalami aktivitas belajar.
c.
Model Pembelajaran STAD adalah metode pembelajaran kooperatif
yang melibatkan pengakuan tim dan tanggung jawab kelompok untuk pembelajaran
individu anggota, keanggotaan kelompok heterogen menurut tingkat prestasi,
jenis kelamin, dan suku.
d. Sistem
Indera merupakan alat penghubung/kontak
antara jiwa dalam wujud kesadaran rohani diri dengan material lingkungan.
Bab II
Tinjauan Pustaka
A. Landasan
Teori
1.1 Pengertian
Belajar
Belajar adalah proses bagi siswa dalam membangun gagasan atau
pemahaman sendiri. Oleh sebab itu, kegiatan belajar mengajar hendaknya
memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan hal tersebut dengan lancar
dan termotivasi. Suasana belajar yang diciptakan guru harus melibatkan siswa
secara aktif, misalnya mengamati, bertanya dan mempertanyakan, menjelaskan, dan
sebagainya. Menurut Mudjiono
(2009), Belajar merupakan tindakan dan perilaku siswa yang kompleks. Sebagai
tindakan, maka belajar hanya dialami oleh siswa sendiri. Siswa adalah penentu
terjadinya proses belajar. Proses belajar terjadi berkat siswa memperoleh
sesuatu yang ada di lingkungan sekitar.
Slameto (Ghullam, 2011) mengemukakan
bahwa belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu
perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi
dengan lingkungannya menyangkut kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dalam
belajar, siswa mengalami sendiri proses dari tidak tahu menjadi tahu, sehingga
terjadi perubahan dalam diri individu siswa.
Belajar
merupakan proses kegiatan yang dapat membawa perubahan individu. Dalam
kenyataannya belajar adalah perubahan individu dalam kebiasaan, pengetahuan,
dan sikap. Hamalik (Nuxon J.Gerung (1983 : 28) mengatakan bahwa Belajar adalah
suatu bentuk pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan
dalam cara-cara bertingkah laku baru berkat pengalaman dan latihan. Muhammad dalam
Nuxon J.Gerung (1999 : 37) mengatakan bahwa belajar adalah pekerjaan yang harus
dikerjakan sendiri, diusahakan sendiri dan tidak dapat menugaskan orang lain
untuk mengerjakannya. Belajar merupakan jenis pekerjaan yang harus melibatkan
diri secara langsung kedalam pekerjaan itu. Hal ini berarti bahwa apabila
seseorang mau belajar atau ingin mempelajari sesuatu, maka dia sendirilah yang
harus mempelajarinya. Dia tidak dapat memerintah atau menyewa orang lain untuk
kepentingannya, melainkan harus terlibat langsung dalam proses belajar ini.
Menurut arti secara psikologis, belajar sebagai
suatu proses perubahan yaitu perubahan dalam tingkah laku seseorang sebagai
hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
Perubahan tersebut dapat diwujudkan dalam seluruh aspek tingkah laku.
Sehubungan dengan hal tersebut, Soeyanto dalam Nuxon J.Gerung (1981 : 12)
mengatakan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan yang terus menerus pada
diri manusia karena usaha untuk mencapai kehidupan atas bimbingan dan sesuai
dengan cita-cita dan falsafah hidupnya. Dapat dikatakan pula bahwa belajar
ialah perubahan dalam diri seseorang yang bersifat kemajuan atau penyempurnaan
kepribadian. Kemajuan dan penyempurnaan tersebut dimaksudkan untuk menghasilkan
perubahan-perubahan positif dalam diri anak didik yang sedang menuju
kedewasaan. Perubahan yang terjadi pada diri anak didik tersebut banyak sekali,
baik sifat maupun jenisnya. Oleh karena itu sudah tentu tidak semua perubahan
dalam diri anak didik merupakan perubahan dalam arti belajar. Contohnya:
perubahan tingkah laku seseorang dalam keadaan tidak sadarkan diri, perubahan
yang terjadi ini merupakan perubahan dalam pengertian belajar.
1.2 Pengertian
Aktivitas
Aktivitas merupakan kegiatan yang dilakukan
seseorang. Menurut Anton M.
Mulyono (Heni Aprilia Rohmawati, 2013), Aktivitas artinya “kegiatan /
keaktifan”. Jadi segala sesuatu yang dilakukan atau kegiatan-kegiatan yang
terjadi baik fisik maupun non-fisik, merupakan suatu aktifitas.
Aktivitas belajar banyak sekali macamnya, sehingga
para ahli mengadakan klasifikasi. Paul D. Dierich (Heni Aprilia Rohmawati,
2013) mengklasifikasikan aktivitas belajar atas delapan kelompok, yaitu :
1. Kegiatan-kegiatan
Visual
Membaca, melihat
gambar-gambar, mengamati eksperimen, demonstrasi, pameran, dan mengamati orang
lain bekerja dan bermain.
2. Kegiatan-kegiatan
Lisan (oral)
Mengemukakan suatu
fakta atau prinsip, menghubungkan suatu kejadian, mengajukan pertanyaan,
memberi saran, mengemukakan pendapat, wawancara, diskusi dan interupsi.
3. Kegiatan-kegiatan
Mendengarkan
Mendengarkan penyajian
bahan, mendengarkan percakapan atau diskusi kelompok, mendengarkan suatu
permainan, mendengarkan radio.
4. Kegiatan-kegiatan
Menulis
Menulis cerita, menulis
laporan, memeriksa karangan, bahan-bahan kopi, membuat rangkuman, mengerjakan
tes dan mengisi angket.
5. Kegiatan-kegiatan
Metrik
Melakukan percobaan,
memilih alat-alat, melaksanakan pameran, membuat model, menyelenggarakan
permainan, menari dan berkebun.
6. Kegiatan-kegiatan
Mental
Merenung, mengingat,
memecahkan masalah, menganalisis faktor-faktor, melihat hubungan-hubungan dan
membuat keputusan.
7. Kegiatan-kegiatan
Emosional
Minat, membedakan, berani, tenang
dan lain-lain. Berdasarkan uraian di atas, peneliti menggunakan tujuh dari
delapan aktivitas siswa meliputi kegiatan membaca, mengemukakan pendapat,
mendengarkan, menulis, melakukan percobaan, memecahkan masalah dan berani
mengemukan pendapat.
Adapun indikator aktivitas siswa dalam
pembelajaran IPA melalui model Kooperatif Tipe STAD adalah (Heni Aprilia
Rohmawati, 2013) :
a. Kesiapan
siswa dalam mengikuti pembelajaran (Kegiatan-kegiatan Visual).
b. Siswa
mendengarkan informasi dari guru (Kegiatan-kegiatan Mendengarkan).
c. Siswa
aktif dalam berdiskusi kelompok belajar (Kegiatan-kegiatan Metrik).
d. Siswa
menyajikan hasil kerja kelompok (Kegiatan-kegiatan Lisan).
e. Siswa
menanggapi hasil diskusi yang disajikan kelompok lain (Kegiatan-kegiatan
Emosional).
f. Siswa
menyimpulkan materi pembelajaran (Kegiatan-kegiatan menulis).
g. Siswa
menganalisis serta mengevaluasi proses pemecahan masalah (Kegiatan-kegiatan
Mental).
1.3 Pengertian
Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan perubahan perilaku diperoleh
pembelajar setelah mengalami aktivitas belajar. Perolehan aspek-aspek perubahan
perilaku tersebut tergantung pada apa yang dipelajari oleh pembelajar (Anni ,
2007 : 5 ). Menurut Anitah (Heni Aprilia Rohmawati, 2013) perubahan perilaku
sebagai hasil belajar merupakan hasil dari pengalaman mental dan emosional,
dikelompokkan kedalam tiga ranah yaitu pengetahuan (kognitif), keterampilan
(psikomotorik) dan penguasan nilai-nilai atau sikap (afektif). Sesuai pendapat
Nawawi ((Heni Aprilia Rohmawati, 2013) keberhasilan murid mempelajari materi
pelajaran di sekolah dinyatakan dalam bentuk nilai atau skor dari hasil tes
mengenai sejumlah pelajaran tertentu. Tujuan hasil belajar dibagi menjadi tiga
macam :
a. Hasil
belajar berupa kemampuan keterampilan atau kecapakan di dalam melakukan atau
mengerjakan suatu tugas, termasuk di dalamnya keterampilan menggunakan alat.
b. Hasil
belajar yang berupa kemampuan penguasaan ilmu pengetahuan tentang apa yang
dikerjakan.
c. Hasil
belajar yang berupa perubahan sikap dan tingkah laku.
Berdasarkan beberapa pendapat ahli dapat disimpulkan
hasil belajar merupakan perubahan perilaku sesuai tujuan khusus melalui
pengalaman yang di dapat siswa melalui ranah kognitif,afektif dan psikomotorik.
Hasil belajar berupa lembar kerja dan tes evaluasi siswa.
1.4 Pengertian
Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran
yang dirancang untuk membelajarkan kecakapan akademik sekaligus keterampilan
sosial. Pembelajaran kooperatif merupakan bentuk pembelajaran dengan cara siswa
belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang
anggotanya terdiri dari empat sampai enam orang dengan struktur kelompok yang
bersifat heterogen (Rusman, 2012). Berdasarkan pendapat tersebut, pembelajaran
kooperatif sama dengan kerja kelompok, walaupun tidak semua kerja kelompok
dikatakan Pembelajaran Kooperatif.
Menurut Nurulhayati (Rusman, 2012) Pembelajaran
kooperatif adalah strategi pembelajaran yang melibatkan partisipasi siswa dalam
satu kelompok kecil untuk saling berinteraksi. Dalam sistem belajar yang
kooperatif, siswa belajar bekerja sama dengan anggota lainnya. Dalam model ini
siswa memiliki dua tanggung jawab, yaitu mereka belajar untuk dirinya sendiri
dan membantu sesame anggota kelompok untuk belajar. Siswa belajar bersama dalam
sebuah kelompok kecil dan mereka dapat melakukannya seorang diri.
Pembelajaran kooperatif tidak sama dengan sekedar belajar
dalam kelompok. Ada unsur dalam pembelajaran kooperatif yang membedakan dengan
pembelajaran kelompok yang dilakukan asal-asalan. Pelaksanaan prinsip dasar
pokok sistem pembelajaran kooperatif dengan benar akan memungkinkan guru
mengelola kelas dengan lebih efektif. Dalam pembelajaran kooperatif proses
pembelajaran tidak harus belajar dari guru kepada siswa. Siswa dapat saling
membelajarkan sesama siswa lainnya. Pembelajaran oleh rekan sebaya lebih
efektif daripada pembelajaran oleh guru ( Rusman, 2012 ).
Menurut Rusman (2012), terdapat empat hal penting
dalam strategi pembelajaran kooperatif, yakni :
1. Adanya
peserta didik dalam kelompok
2. Adanya
aturan main
3. Adanya
upaya belajar dalam kelompok
4. Adanya
kompetensi yang harus dicapai oleh kelompok.
Pembelajaran cooperative mewadahi bagaimana siswa
dapat bekerja sama dalam kelompok, tujuan kelompok adalah tujuan bersama.
Situasi kooperatif merupakan bagian dari siswa untuk mencapai tujuan kelompok,
siswa harus merasakan bahwa mereka akan mencapai tujuan, maka siswa lain dalam
kelompoknya memiliki kebersamaan, artinya tiap kelompok-kelompok bersikap
kooperatif dengan sesama anggota kelompoknya agar pembelajaran dikatakan
efektif. Menurut Sanjana (Rusman, 2012), pembelajaran kooperatif akan efektif
apabila :
1. Guru
menekankan pentingnya usaha bersama disamping usaha secara individual
2. Guru
menghendaki pemerataan perolehan hasil dalam belajar
3. Guru
ingin menanamkan tutor sebaya atau belajar melalui teman sendiri
4. Guru
menghendaki adanya pemerataan partisipasi aktif siswa
5. Guru
menghendaki kemampuan siswa dalam memecahkan berbagai permasalahan.
Pembelajaran kooperatif dicirikan oleh struktur
tugas, tujuan, dan penghargaan kooperatif. Siswa yang belajar dalam situasi
pembelajaran kooperatif didorong dan/atau dikehendaki untuk bekerja sama pada
suatu tugas bersama dan mereka harus mengkoordinasikan usahanya untuk
menyelesaikan tugasnya. Dalam penerapan pembelajaran kooperatif, dua atau lebih
individu saling tergantung satu sama lain untuk mencapai satu penghargaan
bersama. Dalam pembelajaran kooperatif, siswa belajar bersama dalam
kelompok-kelompok kecil yang saling membantu satu sama lain. Kelas disusun
dalam kelompok yang terdiri atas empat atau enam orang siswa, dengan kemampuan
heterogen. Maksud kelompok heterogen adalah terdiri atas campuran kemampuan
siswa, jenis kelamin, dan suku. Hal ini bermanfaat untuk melatih siswa menerima
perbedaan cara bekerja dengan teman yang berbeda latar belakangnya (Hamdani,
2011).
1.5 Model
Pembelajaran STAD
Menurut Slavin (Rusman, 2012) model STAD (Student
Team Achievement Divisions) merupakan variasi pembelajaran kooperatif yang
paling banyak diteliti. Model ini sangat mudah diadaptasi, telah digunakan
dalam matematika, IPA, IPS, bahasa inggris, teknik, dan banyak subjek lainnya,
dan pada tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Dalam STAD, siswa
dibagi menjadi kelompok beranggotakan empat orang yang beragam kemampuan, jenis
kelamin, dan sukunya. Guru memberikan suatu pelajaran dan siswa-siswa di dalam
kelompok memastikan suatu pelajaran dan siswa-siswi di dalam kelompok
memastikan bahwa semua anggota kelompok itu bisa menguasai pelajaran tersebut.
Akhirnya semua siswa menjalani kuis perseorangan tentang materi tersebut, dan
pada saat itu mereka tidak boleh saling membantu satu sama lain.
Langkah-langkah pembelajaran kooperatif model STAD
adalah (Rusman, 2012) :
1. Penyampaian
tujuan dan motivasi
2. Pembagian
kelompok
3. Presentasi
dari guru
4. Kegiatan
belajar dalam tim
5. Kuis
atau evaluasi
6. Penghargaan
prestasi tim.
Menurut
Suyatna (Agisna, 2013) STAD adalah metode pembelajaran kooperatif yang
melibatkan pengakuan tim dan tanggung jawab kelompok untuk pembelajaran
individu anggota, keanggotaan kelompok heterogen menurut tingkat prestasi,
jenis kelamin, dan suku. STAD dipilih karena merupakan metode pembelajaran
kooperatif yang paling sederhana dan cenderung tidak membuat keributan,
sehingga aktivitas siswa dapat terarah dan fokus pada pembelajaran.
Pembelajaran kooperatif dengan tipe STAD didasarkan
pada prinsip bahwa siswa bekerja bersama-sama dalam belajar dan bertanggung
jawab terhadap belajar teman-temannya dalam tim dan juga dirinya sendiri. Siswa
ditempatkan dalam tim belajar yang beranggotakan empat sampai lima orang yang
merupakan campuran menurut prestasi akademik dan jenis kelamin. Dalam model
pembelajaran kooperatif tipe STAD materi dirancang untuk pembelajaran kelompok.
Siswa secara kooperatif mengerjakan tugas-tugas yang diberikan dalam bentuk
LKS. Dalam model pembelajaran ini siswa lebih bebas bertanya kepada teman satu
timnya, sebab biasanya siswa tidak mau bertanya kepada guru apabila menemukan
permasalahan (Asmawati,
2011).
Model
pembelajaran kooperatif tipe STAD memiliki ciri-ciri sebagai berikut (Asmawati,
2011):
1.
Siswa
bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya
2.
Kelompok
dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah
3.
Anggota
kelompok berasal dari ras, suku, budaya, jenis kelamin berbeda-beda
4.
Penghargaan
lebih berorientasi kelompok dibanding individu.
Menurut
penelitian Asmawati (2011), unsur-unsur dasar tipe STAD adalah siswa dalam
kelompoknya haruslah beranggapan bahwa mereka hidup sepenanggungan bersama,
siswa bertanggung jawab atas segala sesuatu didalam kelompoknya, siswa harus
melihat bahwa semua anggota dalam kelompoknya memiliki tujuan yang sama, siswa
harus membagi tugas dan bertanggung jawab yang sama dalam kelompoknya, siswa
dikenakan evaluasi atau hadiah yang juga akan dikenakan untuk semua anggota
kelompoknya, siswa akan diminta pertanggungjawaban secara individual materi
yang ditangani dalam pembelajaran kooperatif.
1.6 Sistem
Indera
Sistem indera adalah bagian dari sistem saraf yang berfungsi untuk
proses informasi indera. Di dalam sistem indera, terdapat reseptor indera, jalur saraf, dan bagian dari otak ikut serta dalam tanggapan indera. Umumnya,
sistem indera yang dikenal adalah penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan dan peraba. Macam-macam system indera antara lain (Pratiwi,
2006) :
a. Indera Penglihat (Mata)
Mata
adalah organ indra yang memiliki reseptor peka cahaya yang disebut
fotoreseptor. Setiap mata mempunyai lapisan reseptor, system lensa untuk
memusatkan cahaya pada reseptor, dan system saraf untuk menghantarkan impuls
dari reseptor ke otak. Pada bagian retina terdapat sel batang yang mampu
menerima rangsang sinar tak berwarna dan sel kerucut yang mampu menerima
rangsang sinar kuat dan berwarna.
Sel
batang mengandung pigmen yang peka terhadap cahaya yaitu rodopsin, suatu bentuk
senyawa antara vitamin A dengan protein tertentu. Bila terkena sinar terang,
rodopsin terurai dan akan terbentuk kembali dalam keadaan gelap. Sel kerucut
mengandung pigmen iodopsin, yaitu senyawa retinin dan opsin. Ada tiga macam sel
kerucut yang masing-masing peka terhadap rangsang warna tertentu yaitu merah,
biru, dan hijau. Dari kombinasi ketiga warna ini, kita dapat menerima spektrum
warna ungu sampai merah. Kerusakan sel konus menyebabkan buta warna merah, biru
atau kuning.
Kecembungan
lensa mata dapat berubah-ubah. Perubahan kecembungan tersebut karena kontraksi
dan relaksasi otot-otot ligamen yang melekat pada bola mata. Kecembungan lensa
mata yang dapat berubah-ubah membuat pandangan menjadi fokus atau sebaliknya
disebut daya akomodasi lensa mata. Mata yang normal adalah yang dapat
memfokuskan sinar-sinar sejajar yang masuk ke mata sehingga jatuh tepat ke
bintik kuning di depan retina sehingga benda dapat dilihat dengan jelas.
Keadaan ini disebut emetrop.
Bagian-bagian
mata adalah (Dwisang, 2011) :
a. Sclera
berfungsi untuk melindungi bola mata dari kerusakan mekanis dan memungkinkan
melekatnya otot mata
b. Kornea
terletak di depan sclera dan dibungkus oleh konjungtiva yang melindungi kornea
dari gesekan
c. Koroid
banyak mengandung pembuluh darah dan pigmen, terdapat iris, pupil, lensa dan
badan bening
d. Iris
berfungsi memberi warna pada mata dan sebagai diafragma untuk mengatur besar
kecilnya pupil.
e. Pupil
berfungsi mengatur jumlah cahaya yang masuk ke mata dan melindungi retina. Jika
cahaya yang yang masuk ke pupil banyak, pupil akan mengecil dan jika cahaya
yang masuk ke pupil sedikit, pupil akan membesar
f. Lensa
mata berfungsi memfokuskan cahaya sehingga menjadi bayangan yang jelas pada
retina.
g. Badan
bening berfungsi meneruskan cahaya dari lensa mata ke retina, menyokong lensa,
dan menjaga bentuk bola mata
h. Retina
mengandung saraf penglihatan dan terdapat bintik buta, bagian yang paling peka
terhadap cahaya.

Sumber www.google.co.id
Kelainan
– kelainan pada mata (Pratiwi, 2006) :
a. Miopi
(mata dekat), bayangan benda jatuh di depan retina karena bola mata terlalu
panjang (cembung). Dapat dibantu kengan kacamata lensa cekung.
b. Hipermetropi
(mata jauh), bayangan benda jatuh di belakang retina karena bola mata terlalu
pendek atau bola mata terlalu pipih. Dapat dibantu dengan kacamata lensa
cembung.
c. Astigmatisma,
kecenderungan kornea tidak merata sehingga bayangan menjadi tidak terfokus
(kabur). Dapat dibantu dengan kacamata silinder.
b. Indera
Pendengar (Telinga)
Mendengar
adalah kemampuan untuk mendeteksi vibrasi mekanis (getaran) yang disebut suara.
Dalam keadaan biasa, getaran mencapai indera pendengar yaitu telinga melalui
udara. Telinga terdiri dari 3 bagian yaitu (Pratiwi, 2006) :
1. Telinga
bagian luar yang terdiri dari daun telinga dan liang telinga berfungsi membantu
mengkonsentrasikan gelombang suara.
2. Telinga
tengah terdiri dari membran tympani (selaput gendang) untuk meneruskan vibrasi
ke osikula; tulang martil (os maleus), tulang landasan (os inkus), tulang sanggurdi
(os stapes) untuk meneruskan getaran ke jendela oval, dan saluran eustachius
untuk menyeimbangkan tekanan udara antara telinga tengah dan lingkungan.
3.
Telinga dalam terdiri
dari jendela oval sebagai penghubung telinga tengah dan telinga dalam, jendela
melingkar sebagai reseptor suara, koklea sebagai reseptor untuk gerakan kepala,
saluran semisirkuler dan utrikulus sebagai reseptor gravitasi, membran basiler
untuk meneruskan vibrasi, organ korti, dan membrane tektorial meneruskan
vibrasi ke organ korti.
Telinga dalam terdiri
dari jendela oval sebagai penghubung telinga tengah dan telinga dalam, jendela
melingkar sebagai reseptor suara, koklea sebagai reseptor untuk gerakan kepala,
saluran semisirkuler dan utrikulus sebagai reseptor gravitasi, membran basiler
untuk meneruskan vibrasi, organ korti, dan membrane tektorial meneruskan
vibrasi ke organ korti.
c. Indera
Peraba dan Perasa (Kulit)
Kulit
mamalia termasuk manusia terdapat beberapa reseptor yang memiliki fungsi
berbeda. Kulit manusia tersusun oleh dua lapisan utama, yaitu epidermis dan
dermis. Pada epidermis terdapat reseptor untuk rasa sakit dan tekanan lemah.
Reseptor untuk tekanan disut mekanoreseptor (Pratiwi, 2006).
Menurut
(Dwisang, 2011) saraf – saraf pada kulit terdiri atas :
1. Ujung
saraf Meissner : peka terhadap sentuhan
2. Ujung
saraf Paccini : peka terhadap tekanan
3. Ujung
saraf Krause : peka terhadap dingin
4. Ujung
saraf Ruffini : peka terhadap panas
5. Ujung
saraf bebas (tanpa selaput) : peka terhadap nyeri
6. Unjung
saraf sekeliling rambut : ujung saraf peraba
7. Lempeng
merkel : peka terhadap sentuhan dan tekanan ringan

Sumber www.google.co.id
d. Indera
Pembau (Hidung)
Manusia
mendeteksi bau dengan menggunakan reseptor yang terletak pada kedua epitel
olfaktori di dalam rongga hidung. Udara yang masuk ke dalam rongga hidung akan
melaluinya. Sel-sel penciuman memiliki ujung berupa rambut-rambut halus.
Rambut-rambut itu dihubungkan oleh urat saraf melalui tulang saringan dan
bersatu menjadi urat saraf olfaktori menuju ke pusat penciuman bau di otak. Di
antara sel-sel penciuman terdapat sel-sel penunjang atau penyokong. Reseptor
pembau dan pengecap saling berhubungan dan bekerja sama. Indera pembau dan
pencium menerima stimulus berupa gas, sedangkan indera pengecap menerima
stimulus berupa cairan. Hanya ada dua sel reseptor yang dapat dibedakan dalam
epitel olfaktori, berdasarkan strukturnya. Akan tetapi, berdasarkan fungsinya,
ada tujuh macam kelompok sel-sel reseptor. Dengan gabungan ketujuh reseptor
itu, kita dapat mengenal 400 macam bau (Pratiwi, 2006).
Sumber
www.google.co.id
e. Indera
Pengecap (Lidah)
Rangsangan
kimia yang berasal dari luar tubuh diterima oleh reptor kimia (kemoreseptor).
Kemoreseptor terhadap lingkungan luar adalah berupa tunas pengecap yang
terdapat pada lidah. Agar suatu zat dapat dirasakan, zat itu harus larut dalam
kelembapan mulut sehingga dapat menstimulasi kuncup rasa/tunas pengecap. Kuncup
rasa kebanyakan terdapat pada permukaan lidah. Ada juga yang beberapa ditemukan
pada langit-langit lunak di belakang mulut dan lengkung langit-langit.
Kemoreseptor dapat dibadakan menjadi empat macam sensasi utama, yaitu rasa
manis, rasa asam, rasa asin dan rasa pahit (Pratiwi, 2006).
Lidah
memiliki tiga papil pengecap, yaitu (Pratii, 2006) :
1. Papil
bentuk benang merupakan papil peraba dan tersebar di seluruh permukaan lidah.
2. Papil
seperti huruf V tersusun dalam lengkungan yang dilingkari oleh suatu saluran
pada daerah dekat pangkal lidah.
3. Papil
berbentuk palu, terdapat pada daerah tepi-tepi lidah.

B. Hipotesis
Tindakan
Hipotesis dalam penelitian tindakan ini adalah aktivitas dan hasil
belajar siswa yang rendah akan meningkat jika diberikan
model
pembelajaran STAD.
Bab III
Metode
Penelitian
A. Metode
dan Bentuk Penelitian
Bentuk
penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan
Kelas. Menurut Mulyasa (2008), Penelitian Tindakan Kelas merupakan suatu cara
memperbaiki dan meningkatkan profesionalisme guru, karena guru merupakan orang
yang paling tahu mengenai segala sesuatu yang terjadi dalam pembelajaran.
Penelitian Tindakan Kelas dapat dilakukan secara efektif oleh setiap guru untuk
meningkatkan kualitas pembelajaran tanpa harus meninggalkan tugas utamnya
mengajar. Penelitian Tindakan Kelas yang dilakukan secara logis dan sistematis
serta jujur dalam pelaporannya akan menjadi masukan untuk meningkatkan
efisiensi dan efektifitas pembelajaran, yang secara langsung akan berdampak
terhadap perbaikan manajemen sekolah secara keseluruhan.
Metode
yang digunakan adalah metode pembelajaran tipe STAD. Menurut Slavin (Rusman,
2012) model STAD (Student Team Achievement Divisions) merupakan variasi
pembelajaran kooperatif yang paling banyak diteliti. Model ini sangat mudah
diadaptasi, telah digunakan dalam matematika, IPA, IPS, bahasa inggris, teknik,
dan banyak subjek lainnya, dan pada tingkat sekolah dasar sampai perguruan
tinggi. Dalam STAD, siswa dibagi menjadi kelompok beranggotakan empat orang
yang beragam kemampuan, jenis kelamin, dan sukunya. Guru memberikan suatu
pelajaran dan siswa-siswa di dalam kelompok memastikan suatu pelajaran dan
siswa-siswi di dalam kelompok memastikan bahwa semua anggota kelompok itu bisa
menguasai pelajaran tersebut. Akhirnya semua siswa menjalani kuis perseorangan
tentang materi tersebut, dan pada saat itu mereka tidak boleh saling membantu
satu sama lain.
B. Sumber
Data/Subjek Penelitian
Adapun sumber data yang
digunakan dalam penelitian ini adalah :
1. Data
cara penerapan model pembelajaran STAD (Student Teams Achievment Divisions)
pada siswa kelas XI IPA 2 SMAN 1 Sambas berupa lembar observasi keterlaksanaan
model STAD (Student Teams Achievment Divisions) selama kegiatan pembelajaran.
Data ini untuk mengetahui cara penerapan model (Student Teams Achievment
Divisions) pada materi Sistem Indera.
2. Data
aktivitas siswa dengan penerapan model pembelajaran STAD (Student Teams
Achievment Divisions) pada siswa kelas XI IPA 2 SMAN 1 Sambas berupa hasil
aktivitas yang dilakukan pada saat kegiatan pembelajaran. Data ini untuk
mengetahui aktivitas belajar siswa pada materi Sistem Indera.
3. Data
hasil belajar siswa dengan penerapan model pembelajaran STAD (Student Teams
Achievment Divisions) pada siswa kelas XI IPA 2 SMAN 1 Sambas berupa tes yang
diberikan diakhir kegiatan pembelajaran. Data ini untuk mengetahui hasil
belajar siswa pada materi Sistem Indera.
C. Waktu
dan Tempat Penelitian
1. Waktu
Penelitian
Waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan penyusunan
dari hasil penelitian ini secara lengkap sangat sulit ditentukan. Akan tetapi,
sebagaimana bahan acuan dapat dikemukakan bahwa penelitian ini diawali pada
bulan Februari dan diakhiri bulan Mei 2014.
2. Tempat
Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di kelas XI IPA 2
semester di SMAN 1 Sambas Tahun Ajaran 2013/2014.
D. Teknik
dan Alat Pengumpul Data
1. Teknik
Pengumpulan Data
Teknik merupakan cara yang dapat digunakan oleh
peneliti untuk pengumpulan data. Adapun teknik pengumpulan data adalah sebagai
berikut :
a. Observasi
Observasi
dalam kegiatan belajar menagajar yaitu kegiatan mendokumentasikan secara
tertulis kejadian yang terjadi di saat berlangsungnya proses pembelajaran.
Observasi dilakukan untuk mengetahui proses pembelajaran biologi dengan model
STAD (Student Teams Achievment Divisions). Hasil observasi ini akan diperoleh
tentang kegiatan siswa dan guru pada saat proses pembelajarn berlangsung.
b. Wawancara
Wawancara
adalah teknik pengumpulan data dengan mengajukan pertanyaan secara lisan kepada
subjek yang diteliti. Wawancara dilakukan untuk mengetahui tingkat pemahaman
siswa terhadap materi.
c. Penilaian
Penilaian
digunakan untuk mengukur sejauh mana seorang siswa telah menguasai pelajaran
yang disampaikan dan biasanya dilakukan diakhir atau diawal pembelajaran.
d. Dokumentasi
Dokumen
merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen biasa berbentuk
tulisan, gambar, atau karya-karya dari seseorang. Dokumen yang dimaksudkan
berupa silabus, RPP, dan data siswa.
2. Alat
Pengumpul Data
Alat pengumpul data adalah alat bantu yang dipilih
dan digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar kegiatan tersebut
berjalan sistematis dan menjadi lebih mudah dalam mengumpulkan data. Alat yang
di gunakan dalam peni\elitian ini adalah tes hasil belajar, lembar observasi,
dan pedoman wawan cara.berikut ini penjelasan dari setiap alat tersebut:
a. Lembar
observasi
Lembar observasi digunakan untuk memperoleh data
mengenai aktivitas siswa dalam belajar.
Observasi dilaksanakan oleh pengamat atau observer.
b. Pedoman wawancara
Pedoman wawancara berfungsi antara
lain memberikan pedoman tentang apa-apa yang akan ditanyakan, mengantisipasi
kemungkinan lupa terhadap pokok permasalahan yang akan ditanyakan serta agar
wawancara dapat berlangsung secara efektif. Wawancara yang digunakan dalam
penelitian ini dilakukan dengan memberikan pertanyaan kepada siswa dan akan
dijawab oleh siswa dengan jawaban secara bebas. Wawancara dilakukan antara
peneliti dengan siswa setelah pelaksanaan tindakan pada setiap siklus.
Penelitian melakukan wawancara dengan dua orang siswa dari tiap kelompok.
c. Tes
Tes
yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes tertulis dalam bentuk objektif,
yaitu dalam bentuk soal pilihan ganda dengan jumlah soal 20. Tes hasil belajar
diberikan setiap akhir siklus.
E. Teknik
Analisis Data
1. Analisis
Data
a. Pengumpulan
Data
Teknik analisis data adalah langkah-langah yang
ditempuh oleh peneliti untuk mengolah data yang diperoleh. Hal yang pertama
dilakukan adalah mengumpulkan data. Apabila peneliti sudah menentukan data apa
yang akan dikumpulkan, darimana data tersebut diperoleh, dan dengan cara apa,
maka peneliti akan mengetahui hal apa yang akan dilakukan selanjutnya.data yang
telah diperoleh akan disaring terlebih dahulu sehingga diperoleh data yang
diharapkan oleh peneliti.
b. Reduksi
Data
Reduksi data merupakan proses berfikir sensitive
yang memerlukan kecerdasan dan keluwesan dan wawasan yang tinggi. Mereduksi
data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal
yang penting serta dicari tema dan polanya.
c. Penyajian
Data
Penyajian data dimaksudkan agar data
terorganisasikan, tersusun dalam pola hubungan, sehingga mudah dipahami. Dengan
penyajian data maka akan memudahkan apa yang terjadi dan merencanakan langkah selanjutnya.
d. Penarikan
Kesimpulan
Kesimpulan dalam penelitian ini merupakan temuan
baru yang sebelumnya belum pernah ada dimana kesimpulan menjawab rumusan
masalah yang telah dirumuskan sejak awal.
2. Perhitungan
Aktivitas Siswa
Pada perhitungan
persentase hasil belajar dan hasil observasi aktivitas siswa digunakan rumus
persentase dari Sudijono (2008) :
P 
Keterangan:
P
= angka persentase
F
= frekuensi yang sedang dicari persentasenya
N = banyaknya individu (jumlah frekuensi)
3. Perhitungan
Hasil Belajar Siswa
Hasil belajar diperoleh dari nilai posttest setiap
siklus. Data yang diperoleh dianalisa dengan rumus sebagai berikut :
Nilai Kognitif 
Untuk menghitung ketuntasan klasikal hasil belajar dengan rumus
sebagai berikut :
Nilai Klasikal 
Tabel 3.2 Pedoman Penilaian Hasil Belajar Siswa
|
Rentang
Skor
|
Predikat
|
|
81%
- 100%
|
Sangat
Baik
|
|
61% - 80%
|
Baik
|
|
41%
- 60%
|
Cukup
|
|
21%
- 40%
|
Kurang
|
|
0%
- 20%
|
Sangat
Kurang
|
Keberhasilan dalam proses pembelajaran memerlukan indicator.
Menurut guru biologi SMAN 1 Sambas proses pembelajaran dikataan berhasil
apabila 75% siswa mencapai ketuntasan belajar dengan KKM = 75.
F. Keabsahan
Data
1. Triangulasi
Tiangulasi merupakan tehnik pemeriksaan keabsahan
data untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data.
Triangulasi berarti cara terbaik untuk menghilangkan perbedaan-perbedaan
konstruksi kenyataan yang ada dalam konteks suatu studi sewaktu mengumpulkan
data data tentang berbagai kejadian atau berhubungan dari berbagai pandangan.
2. Member
check
Member check merupakan
pengecekan anggota yang terlibat dalam proses pengumpulan data yang sangat
penting dalam pemeriksaan derjat
kepercayaan. Yang dicek dengan anggota yang terlibat meliputi data,
kategori analisis, penafsiran dan kesimpulan. Pengecekan anggota dapat
dilakukan baik secara formal.
G. Prosedur
Penelitian
Sesuai
dengan jenis penelitian yang dipilih, yaitu penelitian tindakan, maka penelitian
ini menggunakan model penelitian tindakan dari Kemmis dan Taggart (dalam EJournal
Dinas Pendidikan : 6), yaitu berbentuk spiral dari sklus yang satu ke siklus
yang berikutnya. Setiap siklus meliputi planning (rencana), action (tindakan),
observation (pengamatan), dan reflection (refleksi). Langkah pada
siklus berikutnya adalah perncanaan yang sudah direvisi, tindakan, pengamatan,
dan refleksi. Sebelum masuk pada siklus 1 dilakukan tindakan pendahuluan yang
berupa identifikasi permasalahan. Siklus spiral dari tahap-tahap penelitian
tindakan kelas dapat dilihat pada gambar berikut :
![]() |
Penjelasan
alur di atas adalah :
1. Rancangan/rencana awal, sebelum mengadakan penelitian peneliti
menyusun rumusan masalah, tujuan dan membuat rencana tindakan, termasuk di
dalamnya instrumen penelitian dan perangkat pembelajaran.
2. Kegiatan dan pengamatan, meliputi tindakan yang dilakukan oleh
peneliti sebagai upaya meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa dari
diterapkannya model pembelajaran STAD.
3.
Refleksi, peneliti mengkaji, melihat dan mempertimbangkan hasil atau dampak
dari tindakan yang dilakukan berdasarkan lembar pengamatan yang diisi oleh
pengamat.
4. Rancangan/rencana yang direvisi, berdasarkan hasil refleksi
dari pengamat membuat rancangan yang direvisi untuk dilaksanakan pada siklus
berikutnya.
Daftar Pustaka
Agisna,
A.P. 2013. Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas VII
C SMP Anggrek Banjarmasin Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Student
Team Achievement Divisions (STAD) dan SCRAMBLE. ISBN : 978 – 979 – 16353 – 9 – 4.
Asmawati.
2011. Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Terhad Penguasaan Konsep Siswa Pada Materi Bunyi. Jakarta.
Dwisang,
Luvina, Evi. 2011. Cerdas Menghapal Biologi SMA. Tangerang : Scientific Press.
Ghullam, dkk. 2011.
Pengaruh Motivasi Belajar Siswa Terhadap Prestasi Belajar IPA Di Sekolah Dasar.
Jurnal Penelian Pendidikan Vol.12 No.1.
Hamdani.
2011. Strategi Belajar Mengajar. Bandung : Pustaka Setia.
Mudjiono.2009.
Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta.
Mulyasa,
E. 2008. Menjadi Guru Profesional, Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan
Menyenangkan. Bandung : PT Remaja Rodaskarya.
Nixon
J.Gerung. Conceptual Learning And Learning Style.
Pratiwi.
2006. Biologi Untuk SMA Kelas XI. Jakarta : Penerbit Erlangga.
Rohmawati, Aprilia, Heni. 2013. Peningkatan Kualitas
Pembelajaran IPA Melalui Model Kooperatif Tipe STAD Pada Siswa Kelas V SDN
Sendang Batang. Semarang.
Rusman,
Dr. 2012. Model-model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru Edisi
Kedua. Jakarta : Raja Grafindo Persada.
Yulaikah, Mei. Penerapan Jigsaw Untuk Meningkatkan Hasil
Belajar Siswa Sekolah Dasar. E-Jurnal Dinas Pendidikan Kota Surabaya; Volume 6.
Lampiran
1. RPP
2. LKS
a. Kisi-kisi
LKS
b. LKS
c. Pedoman
Penilaian LKS
3. Soal
a. Kisi-kisi
Soal
b. Soal
c. Pedoman
Penskoran Soal

Tidak ada komentar:
Posting Komentar